Menurut Sigmund Freud alam sadar manusia sangat dipengaruhi oleh Alam alam bawa sadar.
Fenomena bunuh diri di Toraja menjadi tanda tanya besar mengapa hal demikian bisa terjadi di negeri yang sangat hangat dengan budaya dan agama. Alam sadar yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari rupanya hanya sebagian kecil atau hanya sebuah puncak dari gunung es.
Banyak dalam alam sadar yang ingin dilakukan namun tertekan oleh budaya dan agama, oleh karenanya hanya bisa muncul dialam pra-sadar. Ditambah lagi oleh tekanan sosial, ekonomi bahkan tekanan penyakit. Penyakit jasmani dan penyakit sosial sangat mempengaruhi eksistensi setiap individu sehingga terkubur sangat dalam di alam bawah sadar.
Ketika alam bawa sadar tertekan dan tidak lagi terkontrol maka hanya ada empat kemungkinan yang akan terjadi; mimpi, stres, kerasukan(yang dianggap sebagai efek kakuatan magic dan atau kuasa roh jahat) dan yang terakhir bunuh diri.
Oleh karena itu, dibutuhkan hal yang dapat memfilter alam bawah sadar ke alam sadar supaya dapat terkontrol.
Ketika agama dan budaya hanya menjadi penekan maka disinilah peran institusi pendidikan. Sebagai wadah pendidikan karakter. Pendidikan karakter baik secara formal maupun non-formal.
Dalam dunia pendidikan di Toraja kurang menanam kan pendidikan karakter,; hanya sebatas kompetensi dan setelah selesai harus bisa menghasilkan uang demi keluarga dan tuntutan budaya. Ketika tujuan itu tidak terpenuhi maka akan terpendam dan menumpuk dialam bawah sadar. Ketika alam sadar tidak akan terkontrol maka akan berusaha muncul dialam pra-sadar jika alam pra-sadar maka akan berujung pada kematian.
Sekiranya keluarga, gereja dan institusi pendidikan mampu menetralkan alam bawah sadar pemuda-pemudi Toraja supaya Toraja tidak lagi dirundung duka yang mendalam..
Semoga Keluarga yang ditinggal kan oleh mereka dikuat oleh Tuhan yang Maha Esa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar